Cerita Perempuan dan Dunia Diplomasi

perempuan dan diplomasi
Renny Meirina, Fungsional Diplomat di Direktorat Hukum dan Perjanjian Kewilayahan, Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional, Kementerian Luar Negeri. (Foto: Dok. Chicmanagers.com)

Menjadi diplomat tampaknya merupakan cita-cita banyak anak muda. Namun, dunia diplomasi dan pekerjaan sebagai diplomat kerap kali diidentikan dengan kaum adam. Pasalnya, pekerjaan tersebut tidak mengenal waktu. Seorang diplomat dituntut untuk sering melakukan perjalanan dinas di dalam maupun luar negeri untuk menghadiri berbagai pertemuan dan perundingan, melakukan negosisasi di berbagai lini, hingga ditempatkan di negara-negara yang tidak selalu nyaman. Itulah yang membuat pekerjaan sebagai diplomat kerap dikategorikan sebagai pekerjaan yang cukup berat bagi perempuan.

Akan tetapi, jangan salah. Walaupun pekerjaan sebagai diplomat tidaklah mudah, ada banyak kok perempuan yang berhasil bertahan di dunia tersebut, dengan cerita yang berbeda-beda. Salah satunya adalah narasumber kita kali ini, Renny Meirina, Fungsional Diplomat di Direktorat Hukum dan Perjanjian Kewilayahan, Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional, Kementerian Luar Negeri.

Penasaran dengan pengalamannya di dunia diplomasi? Yuk, simak wawancara tim Chic Managers (CM) dengan Renny Meirina (RM).

CM: Mengapa pada akhirnya memutuskan untuk menjadi diplomat?

RM: Menjadi seorang diplomat adalah cita-cita saya dari SD. Pada saat itu saya kelas 6 SD dan terinspirasi dari satu artikel di Koran Kompas tentang peran diplomat yang digambarkan oleh Duta Besar Nugroho Wisnumurti.

Sejak saat itu, berbagai upaya saya lakukan untuk mempersiapkan diri sebagai seorang diplomat, seperti kursus bahasa Inggris. Karena tidak bisa masuk Fakultas Hubungan Internasional (HI), maka akhirnya saya masuk Fakultas Hukum jurusan Hukum tentang hubungan transnasional. Alhamdulillah pada tahun 2007 saya dapat menjadi bagian dari keluarga besar Kementerian Luar Negeri.

CM: Apa suka dan duka menjadi diplomat perempuan?

RM: Sukanya, menjadi diplomat itu menyenangkan. Saya beruntung bisa mendapatkan beasiswa untuk mengambil S2 di bidang Hukum Maritim di Malta, suatu negara kecil di Mediterania. Selain itu, saya juga memiliki kesempatan untuk melihat dunia luar—tidak terpaku hanya di dalam negeri saja, bisa mempelajari dunia diplomasi, menjadi wakil Indonesia dalam berbagai sidang internasional, mewakili Indonesia dalam berbagai event dan pertemuan selama bertugas di negara penempatan, dan tentunya memiliki banyak relasi dari berbagai kalangan hingga berbagai negara. Namun, yang paling utama adalah saya bisa mengaktualisasikan diri saya sebagai seorang diplomat, pegawai negeri, istri, ibu, dan menjadi diri sendiri.

Dukanya, perlu diakui bahwa menjadi diplomat juga tidak luput dari berbagai tantangan. Menjadi diplomat tandanya kita harus rela untuk sering tinggal berpindah-pindah dari negara satu ke negara lain yang tentunya berdampak pada keluarga. Kita jadi tinggal jauh dari keluarga yang ada di Indonesia. Belum lagi, jika sudah memiliki suami dan anak-anak. Perlu adanya kompromi dengan suami karena sebagai suami dari seorang diplomat yang ditugaskan di perwakilan Indonesia yang ada di luar negeri, tidak diperbolehkan bekerja. Tentu ada kompromi di situ, apakah suami ingin bekerja dengan risiko tidak bisa menemani istrinya dalam penempatan, sehingga harus menjalani long distance relationship (LDR, hubungan jarak jauh) atau ikut menemani istri penempatan, tapi tidak bekerja.

Jika memiliki anak-anak yang sudah sekolah, maka perlu dipikirkan pula sekolahnya. Mereka akan sering berpindah-pindah sekolah dan harus beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda-beda. Jika kalian mencari pekerjaan yang bisa menyeimbangkan kerja dan keluarga, menjadi diplomat akan memiliki tantangan yang lebih besar. Tuntutan pekerjaan yang tinggi membuat kami—terutama saya—merasa agak kesulitan untuk menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga.

CM: Bagaimana membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga?

RM: Tentunya membuat skala prioritas. Keluarga selalu yang utama untuk saya. Namun, prioritas ini kadang suka berubah-ubah. Terkadang ketika tuntutan pekerjaan sedang tinggi, maka tentunya membutuhkan perhatian yang lebih tanpa mengesampingkan keluarga. Namanya juga mengabdi untuk negara, tentunya dibutuhkan komitmen dan totalitas, kan?

CM: Anda ditempatkan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing sebagai lokasi penempatan pertama. Mengapa memilih Beijing sebagai lokasi penempatan pertama?

RM: Sebagai diplomat, kita tidak bisa menentukan atau memilih di mana kita akan ditugaskan. Pada 2013-2016 saya mendapatkan kepercayaan untuk bertugas di KBRI Beijing. Walaupun tidak tahu kesulitan-kesulitan apa yang akan dihadapi mengingat saya tidak bisa berbahasa Mandarin, semua itu harus tetap dijalani, dan ternyata penugasan saya di Beijing merupakan tiga tahun terbaik dalam hidup saya.

CM: Apa saja momen-momen menarik dan sulit ketika penempatan di Beijing?

RM: Perjuangan yang saya hadapi ketika penempatan di Beijing tidak hanya sebagai seorang diplomat, tetapi juga perjuangan sebagai seorang ibu. Satu bulan setelah saya tiba di Beijing, saya mengandung anak pertama—di tempat di mana saya berjuang untuk belajar bahasa Mandarin, budaya, dan lingkungan yang tentunya baru. Butuh perjuangan untuk menemukan dokter kandungan yang bisa berbahasa Inggris.

Saya juga mengalami diabetes gestasional kala itu sehingga saya harus memperhatikan asupan dan memeriksa kadar gula darah setiap harinya. Putra pertama saya lahir ketika udara di Beijing berada pada kondisi terburuknya di awal 2014, dengan berat 3,83 kg. Pada usia dua minggu ia terkena pneumonia dan harus dirawat di rumah sakit yang ramah Bahasa Inggris di Beijing.

Jujur ini bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Ia harus diberi infus antibiotik di rumah sakit selama tujuh hari ditambah nebulisasi, yaitu pemberian terapi menggunakan alat nebulizer untuk membantu pernapasannya.

Ketika anak pertama saya berusia sekitar delapan bulan, saya mengandung anak kedua. Saat kehamilan anak kedua, saya juga mengidap diabetes gestasional. Untungnya, kehamilan kedua saya sedikit lebih mudah. Setelah 20 jam persalinan, saya akhirnya melahirkan bayi laki-laki sehat.

Menjadi diplomat perempuan tidak berarti hanya menjadi seorang diplomat, melainkan menjadi seorang diplomat, istri, dan ibu di saat yang bersamaan. Berjuang di negeri orang bukan hal yang mudah. Apa lagi, jika tidak begitu familiar dengan bahasa di sana. Saya bersyukur memiliki suami yang setia memberi dukungan dan selalu berada di sisi saya.

CM: Apa saran untuk perempuan-perempuan yang ingin menjadi diplomat?

RM: Just do it! Perempuan itu berhak memiliki cita-cita setinggi apapun, dan apapun yang dipilih, berkomitmenlah—baik untuk pasangan, keluarga, dan juga profesi. You can take a break but you should choose to move on.

Untuk mempersiapkan diri menjadi diplomat, kamu perlu memiliki pengetahuan yang luas, terutama mengenai isu-isu internasional dan juga isu nasional sebagai bekal untuk berdiskusi dengan counterparts.

Nah Ladies, dari obrolan bersama Renny Meirina dapat kita simpulkan juga bahwa memiliki mental yang kuat dan kemampuan beradaptasi yang baik sangat penting untuk menunjang profesi sebagai diplomat, mengingat seorang diplomat akan banyak berpindah-pindah dari satu negara ke negara lainnya.

Bagi kamu yang ingin menjadi diplomat, tapi masih bimbang, jangan khawatir! Kita bisa melihat sosok inspiratif lainnya, seperti Menteri Luar Negeri RI, Ibu Retno Marsudi, yang juga merupakan seorang istri dan ibu dari dua orang anak. Namun, mobilitas yang tinggi dan aktivitas yang padat tidak menghalanginya untuk terus berkarya, mengabdi kepada negara, dan tentunya keluarga.

Semoga artikel ini menginspirasi kamu ya, Ladies! (wid/raa)

About Angela Jessica

Saat ini Angie terdaftar sebagai mahasiswa semester akhir Fakultas Hukum di salah satu universitas swasta ternama di Indonesia. Ia memiliki semangat tinggi untuk belajar dan minat dalam creative writing. Di sela kuliah, Angie mengisi waktunya dengan menjalani internship di perusahaan/lembaga yang memiliki latar belakang sesuai dengan minat dan pendidikannya. Artikel-artikelnya di Chic Managers ia tulis berdasarkan pengamatan dan pengalamannya menjalani internship di berbagai tempat.

View all posts by Angela Jessica →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *