
Dita baru saja bergabung di sebuah perusahaan. Awalnya dia semangat karena perusahaan tersebut terlihat menjanjikan. Namun, di bulan pertama, ia mulai merasa ada yang tidak beres. Ada gosip yang beredar dari teman sekantor bahwa anggaran operasional perusahaan dipotong, dan muncul isu tak akan ada bonus dan kenaikan gaji tahun ini.
Bukan itu saja, komunikasi dengan atasan dan antartim juga berantakan. Bosnya kerap bicara dengan nada keras dan merendahkan, serta sering memberi instruksi kerja yang tak jelas dan berubah-ubah. Pagi hari, Dita diminta untuk menyelesaikan laporan dengan format A, tetapi ketika laporan diserahkan, ia meminta laporan dengan format B.
Selain itu, suasana rapat tim juga terasa tegang. Atasan suka menyalahkan dan menyindir anak buahnya. Rekan-rekannya, dan Dita yang masih karyawan baru, hanya bisa diam karena takut dianggap melawan. Hanya butuh waktu beberapa minggu saja, Dita sadar bahwa pola komunikasi ini bukan sekadar miskomunikasi sesaat, tapi sudah menjadi budaya kerja yang tidak sehat di kantornya.
Ini pengalaman Dita. Mungkin banyak dari kita juga pernah merasakan apa yang Dita alami.
Pentingnya Komunikasi yang Sehat
Komunikasi internal di dalam kantor bukan sekadar untuk bertukar informasi dan berbagi ide ketika rapat, tetapi juga untuk menjaga keselarasan dan ritme kerja antartim. Bukan hanya untuk memastikan target perusahaan tercapai sesuai tenggat waktu yang ditentukan, tapi juga untuk membangun kepercayaan dan menjaga budaya perusahaan tetap positif.
Sayangnya, tidak semua perusahaan menerapkan pola komunikasi yang sehat sehingga berpotensi menimbulkan konflik dan merugikan kinerja tim maupun individu. Berikut ini beberapa ciri komunikasi “red flag” yang perlu kamu waspadai.
1. Komunikasi tidak transparan
Komunikasi yang tidak transparan atau hanya di lingkaran tertentu masih terjadi di banyak organisasi. Misalnya, informasi penting hanya diketahui sebagian tim, sementara anggota lain mengetahuinya belakangan atau bahkan tidak terinformasi sama sekali. Selain bisa menimbulkan kesalahpahaman, pola komunikasi seperti ini juga akan menimbulkan rasa tidak dihargai, membuat jarak antar-karyawan, hingga membuat tim tidak solid.
2. Banyaknya peredaran gosip
Gosip di kantor biasanya muncul karena ketidakjelasan atau keterlambatan informasi resmi dari manajemen. Akibatnya, kabar terkait kondisi perusahaan, seperti isu efisiensi, rencana restrukturisasi, atau penundaan kenaikan gaji karyawan beredar lewat bisikan-bisikan karyawan. Masalahnya, gosip sering tidak akurat dan meresahkan. Selain bisa membuat karyawan saling curiga dan demotivasi, gosip juga bisa melemahkan kepercayaan terhadap manajemen dan membuat suasana kerja tidak kondusif.
3. Lebih banyak komunikasi satu arah
Dalam organisasi yang sehat, komunikasi seharusnya berjalan dua arah: dari atasan ke bawahan, dan sebaliknya. Red flag muncul ketika jalur komunikasi dan instruksi hanya datang dari atas ke bawah, dan tanpa ruang untuk diskusi atau menyampaikan pendapat. Pola komunikasi seperti ini menunjukkan kepemimpinan yang hanya menjadikan karyawan sebagai “pelaksana instruksi” dan tidak dipertimbangkan sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan.
4. Gaya bicara kasar dan menyudutkan
Komunikasi internal yang sehat mendorong diskusi dan feedback yang membangun. Sebaliknya, red flag muncul ketika kritik di tempat kerja disampaikan secara personal, dengan gaya bicara kasar dan menyudutkan, serta tidak memberi solusi. Hal ini menekan kreativitas karyawan, membuat mereka enggan berpendapat, bahkan memicu stress dan rasa takut hingga berujung pada penurunan motivasi kerja.
5. Atasan sering menggunakan bahasa yang ambigu dan terkesan lepas tangan
Ketika instruksi yang disampaikan bos atau rekan kerja tidak jelas dan multitafsir, risiko miskomunikasi akan semakin besar. Bayangkan kamu memiliki atasan yang sering memberi instruksi tak jelas, seperti “kerjakan secepatnya” atau “buat laporan yang bagus” tanpa ada indikator yang jelas. Tentu ini akan membingungkan, karena karyawan tidak memiliki standar khusus.
Lebih parah lagi, ketika kamu mencoba untuk berdiskusi, si bos malah menjawab, “Tidak tahu, coba kamu pikirkan sendiri.” Sikap lepas tangan ini akan membuat bawahan tidak semangat serta merasa tak mendapat dukungan dan tidak berkembang. Akibatnya, motivasi menurun, rasa hormat dan kepercayaan terhadap pimpinan juga melemah.
6. Konflik diabaikan atau ditutup-tutupi
Konflik dan perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam dinamika kerja. Namun, perusahaan sering menganggap perbedaan pendapat sebagai hal yang mengganggu “keharmonisan” lingkungan kerja, sehingga manajemen memilih meredam atau menutup mata. Akibatnya, masalah utama sulit benar-benar diselesaikan. Padahal, alih-alih hilang, konflik yang diabaikan justru akan menumpuk dan bisa meledak sewaktu-waktu dalam bentuk yang lebih destruktif, seperti perpecahan tim, demotivasi massal, sabotase antartim atau antarkaryawan, hingga karyawan berprestasi memilih untuk keluar.
Perlu Diwaspadai
Komunikasi internal yang bermasalah bisa berdampak luas, mulai dari menurunnya kepercayaan antar-karyawan atau terhadap manajemen, makin tingginya turnover karyawan, dan hilangnya arah tujuan organisasi. Sama seperti penyakit, makin cepat kita mengenali red flag dalam komunikasi di lingkungan kerja, akan semakin mudah kita mencegah konflik yang lebih parah atau berkepanjangan. Jika segala upaya untuk memperbaiki tidak berhasil sesuai harapan, maka keputusannya ada di tanganmu: bertahan atau mencari tempat kerja yang baru.